Rabu, 21 Agustus 2019

proses menstruasi


Proses Menstruasi
A.  Aspek Evolusi
Manusia merupakan salah satu spesies yang mempunyai siklus reproduksi bulanan, atau setiap 28 hari. Sikluas haid terjadi sebagai akibat pertumbuhan dan pengelupasan lapisan endometrium uterus. Pada akhir fase haid endometrium menebal lagi atau proliferasi. Setelah ovulasi pertumbuhan endometrium berhenti, kelenjar atau glandula menjadi lebih aktif atau fase sekresi.
Perubahan endometrium dikontrol oleh siklus ovarium. Rata-rata siklus 28 hari dan terdiri atas: (1) Fase folikular, (2) Ovulasi, (3) Pasca Ovulasi atau fase luteal. Jika siklusnya memanjang, fase folikularnya memanjang, sedangkan fase lutealnya tetap 14 hari.
Siklus haid normal karena (1) Hypothalamus-pituitari-ovarian endocrine axis.

B.  Hormon yang Mengontrol Siklus Haid
Pematangan folikel dan ovulasi dikontrol oleh Hypothalamus-pituitari-ovarian endocrine axis. Hipotalamus mengontrol siklus, tetapi ia sendiri dapat dipengaruhi oleh senter yang lebih tinggi di otak, misalnya kecemasan dan stres dapat mempengaruhi siklus. Hipotalamus memacu kelenjar hipofisis dengan menyekresi gonadotropin-releasing hormone (GnRH).
Pulsasi sekitar setiap 90 menit, menyekresi GnRH melalui pembuluh darah kecil di sistem portal kelenjar hipofisis ke hipofisis anterior, gonadotropin hipofisis memacu sintesis dan pelepasan follicle-stimulating hormone (FSH) dan luteinizing-hormone (LH).
FSH adalah hormon glikoprotein yang memacu pematangan folikel selama fase folikular dari siklus. FSH juga membantu LH memacu sekresi hormon steroid, terutama estrogen oleh sel granulosa dari folikel matang.
LH juga termasuk glikoprotein. LH ikut dalam steroidogenesis dalam folikel dan berperan penting dalam ovulasi. Produksi progesteron oleh korpus luteum juga dipengaruhi oleh LH.





 









C.    Siklus Ovarium
Fase Folikular
Hari  ke 1-8;
Pada awal siklus, kadar FSH dan LH relatif tinggi dan memacu perkembangan10-20 folikel dengan satu folikel dominan . Folikel dominan tersebut tampak pada fase mid-follicular, sisa folikel mengalami atresia . Relatif tingginya kadar FSH dan LH merupakan trigger turunnya estrogen dan progesteron pada akhir siklus. Selama dan segera setelah haid kadar estrogen relatif rendah tapi mulai meningkat karena terjadi perkembangan folikel .
Hari ke 9-14
Pada saat ukuran folikel meningkat lokalisasi akumulasi cairan tampak sekitar sel granulosa dan menjadi konfluen, memberikan peningkatan pengisian cairan diruangan sentral yang disebut antrum yang merupakan transformasi folikel primer menjadi sebuah graafian folikel dimana oosit menempati posisi eksentrik, dikelilingi oleh dua sampai tiga lapis sel granulosa yang disebut kumulus ooforus .
Perubahan hormon: hubungannya dengan pematangan folikel adalah ada kenaikan yang progresif dalam produksi estrogen(terutama estradiol) oleh sel granulosa dari folikel yang berkembang . Mencapai puncak 18 jam sebelum ovulasi . Karena kadar estrogen meningkat, pelepasan kedua gonadotropin ditekan(umpan balik negatif) yang berguna untuk mencegah hiperstimulasi dari ovarium dan pematangan banyak folikel .
Sel granulosa juga menghasilkan inhibin yang mempunyai implikasi sebagai faktor dalam mencegah jumlah folikel yang matang .
D.    Ovulasi
Hari ke-14
Ovulasi adalah pembesaran folikel secara cepat yang diikuti dengan protrusi dari permukaan korteks ovarium pecahnya folikel dengan ekstruksinya oosit yang ditempeli oleh kumulus ooforus . Pada beberapa perempuan saat ovulasi dapat dirasakan dengan adanya nyeri di fosa iliaka . Pemeriksaan USG menunjukkan adanya rasa sakit yang terjadi sebelum folikel pecah .
Perubahan hormon: estrogen meningkatkan sekresi LH (melalui hipotalamus) mengakibatkan meningkatnya produksi androgen dan estrogen(umpan balik positif) . Segera sebelum ovulasi terjadi penurunan kadar estradiol yang cepat dan peningkatan produksi progesteron . Ovulasi terjadi dalam 8 jam dari mid-cycle surge LH

E.     Fase Luteal
Hari ke 15-28
Sisa folikel tertahan dalam ovarium di penitrasi oleh kapilar dan fibroblast dari teka . Sel granulosa mengalami luteinisasi menjadi korpus luteum . Korpus luteum merupakan sumber utama steroid seks, estrogen dan progesteron disekresi oleh ovarium pada fase pasca-ovulasi .
Korpus luteum meningkatkan produksi progesteron dan estradion. Kedua hormon tersebut diproduksi dari prekursor yang sama.
Selama fase luteal kadar gonoadotropin mencapa nadir dan tetap rendah sampai terjadi regresi korpus luteum yang terjadi pada hari ke-26 – 28. Jika terjadi konsepsi dan implantasi, korpus luteum tidak mengalami regresi karena dipertahankan oleh gonadotropin yang dihasilkan oleh trofoblas. Jika konsepsi dan  implantasi tidak terjadi korpus luteum akan mengalami regresi dan terjadilah haid. Setelah kadar hormon steroid turun akan diikuti peningkatan kadar gonadotropin untuk inisiasi siklus berikutnya.

F.     Siklus Uterus
Dengan diproduksinya hormon steroid oleh ovarium secara siklik  akan menginduksi perubahan penting pada uterus, yang melibatkan endometrium dan mukosa serviks .
Endometrium
Endometrium terdiri atas 2 lapis, yaitu lapisan superfisial yang akan mengelupas saat haid dan lapisan basal yang tidak ikut dalam proses haid, tetapi ikut dalam proses regenerasi lapisan superfisial untuk siklus berikutnya . Batas antara 2 lapis tersebut ditandai dengan perubahan dalam karakteristik arteriola yang memasok endometrium .

Fase proliferasi
Selama fase folikular di ovarium, endometrium di bawah pengaruh estrogen . Pada akhir haid proses regenerasi berjalan dengan cepat . Saat ini disebut fase proliferasi, kelenjar tubular yang tersusun rapi sejajar dengan sedikit sekresi .

Fase Sekretoris
Setelah ovulasi produksi progesteron menginduksi perubahan sekresi endometrium .Tampak sekretori vakuole dalam epitel kelenjar di bawah nukleus, sekresi maternal ke dalam lumen kelenjar dan menjadi berkelok-kelok .

Fase Haid
Normal fase luteal berlangsung selama 14 hari . Pada akhir fase ini terjadi regresi korpus luteum yang ada hubungannya dengan menurunnya produksi estrogen dan progesteron ovarum . Penurunan ini diikuti oleh kontraksi spasmodik yang intens dari bagian arteri spiralis kemudian endometrium menjadi iskemik dan nekrosis, terjadi pengelupasan lapisan superfisial endometrium dan  terjadilah perdarahan .
Vasospasmus terjadi karena adanya produksi lokal prostaglandin . Prostaglandin juga meningkatkan kontraksi uterus bersamaan dengan aliran darah haid yang tidak membeku karena adanya aktivitas fibrinolitik lokal dalam pembuluh darah endometrium yang mencapai puncaknya saat haid .
                            




 



























Daftar Pustaka
Prawirohardjo, Sarwono, dkk. 2009. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Bina Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar